Reading course 3
Konsep dasar etika umum
H.)
Hati nurani
Hati
nurani adalah bagian yang tak terpisahkan dari manusia, karena allah
menjadikannya bagian dari diri seseorang. Jadi, hsti nurani menghakimi hatu
nurani juga dapat dilatih oleh pikiran dan perbuata, keyakinan dan aturan yang
ditanamkan dalam pikiran seseorang melalui pelaaran dan pengalamn.
I.) Shame culture and Guilt
culture
·
Shame culture adalah kebudayaan dimana
pengertian-pengetian seperti “Hormat”, “Reputasi”, “ Nama baik”, “Status”, dan
“Gengsi” sangat ditekankan.
·
Guilt culture adalah kebudayaan dimana
pengertian-pengertian seperti “Dosa” (sin), “Kebersalahan” (guilt), dan
sebagainya sangat di pentingkan.
Ciri-ciri
shame culture :
1.
ditandai rasa malu
2.
menekankan pengetian hormat, reputasi, nama
baik, status, dan gengsi
3.
bila melakukan kejahatan harus disembunyikan
dari orang lain
4.
hati nurani hampir tidak berperan
Ciri-ciri
guilt culture :
1.
ditandai rasa malu
2.
kendati suatu kejahatan tidak diketahui oleh
orang lain, pelaku tetap merasa bersalah
3.
hati nurani sangat berperan penting
4.
ditandai oleh martabat manusia
J.) Kebebasan dan Tanggung
jawab
Menurut
kamus John kersey mengartikan bahwa “Kebebasan” adalah sebagai kemerdekaan atau
bebas meninggalkan. Artinya semua orang bebas untuk tidak melakukan atau
melakukan suatu hal.
Tanggung
jawab berkaitan dengan “Penyebab” yang bertanggung jawab hanya yang melakukan
tindakan tidak ada tanggung jawab tanpa kebebasan atau sebaliknya.
K.) Nilai dan Norma
Hubungan
antara nilai dengan norma terletak pada dijadikannya nilai sebagi sumber dari
aturan-aturan yang menuntun tingkah laku manusia agar harapan-harapannya dapat
menjadi kanyataan.
L.) Hak dan Kewajiban
·
hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik
kita dan penggunaannya tergantung kepada kitaa sendiri.
·
Kewajiban adalah sesuatu yang dilakukan dengan
tanggung jawab.
Sebaimana
yang telah diatur oleh UUD 1945 maka kita harus melaksanakan hak dan kewajiban
kita sebagai warga negara dengan tertib yang meliputi :
1.
hak dan kewajiban dalam bidang politik
2.
hak dan kewajiban dalam bidang sosial budaya
3.
hak dan kewajiban dalam bidang hankam
4.
hak dan kewajiban dalam bidang ekonomi
M.) Menjadi manusia yang baik
Suatu
kenyataan yang tidak dapat dibantah, kita didunia ini tidak dapat hidup sendirian,
tidak dapat hidup sebatang kara. Kita semua ini bukanlah malaikat, yang dapat
hidup dengan tidak makan, minum, dan lain sebagainya. Kita adalah manusia, kita
adalah anak Adam yang tidak boleh tidak pasti mempunyai banyak keperluan hidup,
baik bersifat rohani maupun yang bersifat jasmani, baik yang primer maupun yang
sekunder.
Kita semua tahu hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepda kebutuhan hidup kita yang sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin dapat kita cukupi hanya dengan usaha tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita makan misalnya, setiap suap nasi yang kita makan, kita memerlukan bantuan puluhan atau bahkan ratusan dan ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan setiap suap nasi kita itu, sejak mulai biji padi dijatuhkan di tanah, sampai akhirnya berwujud nasi yang siap untuk dimakan. Misalnya lagi, kita mencari ilmu. Setiap bagian ilmu yang kita pelajari, pastilah sebelum itu sudah banyak sekali orang lain yang telah bekerja bersusah payah sehingga ilmu itu dapat dan mudah kita pelajari. Kita tinggal membaca buku atau mendengarkannya, dan kita tidak melakukan penyelidikan mulai dari nol ketika ilmu itu belum ditemukan. Dan lain sebagainya. Jadi saudara-saudara kita semua pasti memerlukan bantuan orang lain. Dan hajat kita akan bantuan orang lain, bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, kita semua ini harus hidup bermasyarakat. Itulah sebabnya sudara-saudara, para sosiolig berkata bahwa; “manusia adalah makhluk social”
Kita semua tahu hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepda kebutuhan hidup kita yang sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin dapat kita cukupi hanya dengan usaha tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita makan misalnya, setiap suap nasi yang kita makan, kita memerlukan bantuan puluhan atau bahkan ratusan dan ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan setiap suap nasi kita itu, sejak mulai biji padi dijatuhkan di tanah, sampai akhirnya berwujud nasi yang siap untuk dimakan. Misalnya lagi, kita mencari ilmu. Setiap bagian ilmu yang kita pelajari, pastilah sebelum itu sudah banyak sekali orang lain yang telah bekerja bersusah payah sehingga ilmu itu dapat dan mudah kita pelajari. Kita tinggal membaca buku atau mendengarkannya, dan kita tidak melakukan penyelidikan mulai dari nol ketika ilmu itu belum ditemukan. Dan lain sebagainya. Jadi saudara-saudara kita semua pasti memerlukan bantuan orang lain. Dan hajat kita akan bantuan orang lain, bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, kita semua ini harus hidup bermasyarakat. Itulah sebabnya sudara-saudara, para sosiolig berkata bahwa; “manusia adalah makhluk social”
1.
Manusia diciptakan dengan penuh kesempurnaan
akal dan pikiran oleh Allah Swt, kemudian harus berinteraksi dengan sekitarnya
dengan cara yang dibenarkan sehingga kehidupan bersama yang damai dan penuh
rasa aman dapat tercapai.
2.
Akhlak secara terminologi tingkah laku seseorang
yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan perbuatan baik.
Dan akhlak bersumber pada agama. Moral Adat istiadat yang menjadi dasar untuk
mengukur apakah perbuatan seseorang baik atau buruk
3.
Budi pekerti Budi berarti sadar atau yang
menyadarkar Pekerti berarti kelakuan Perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang
bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia
4.
Ruang Lingkup Akhlak Akhlak berkeluarga Akhlak
Pribadi Akhlak Bermasyarakat Akhlak Bernegara Akhlak Beragama
5.
Keutamaan dan Watak Moral Keutamaan adalah:
Disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkannya untuk
bertingkah laku baik secara moral Disposisi berarti suatu kecenderungan yang
tetap Keutamaan berkaitan dengan kehendak / motif Keutamaan diperoleh dari
membiasakan diri (hasil latihan)Misalnya: Kemurahan Hati
6.
Royalah Dalam Memberikan Pujian. Buatlah Orang Lain Merasa Dirinya Sebagai
Orang Penting. Jadilah Pendengar Yang Baik.
Usahakan Untuk Menyebut Nama Orang Dengan Benar. Bersikaplah Ramah. Bermurah Hatilah. Hindari Kebiasaan Mengkritik Dan Mencela.
Bersikaplah Asertif. Perbuatlah Apa Yang
Anda Ingin Orang Lain Perbuat Kepada Anda.
7.
Ialah tingkat yang paling rendah yaitu kita
bergaul dengan orang lain hanya sekedar kita tidak membuat susah kepada orang
lain dan tidak mengganggu mereka. Bergaul yang baik dengan orang lain menurut
tingkat kedua ini kita bergaul tidak secara pasif lagi tetapi secara aktif,
dengan kita berbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak sekedar hanya
“tidak menggangu orang lain”, tetapi lebih dari itu kita sudah memberikan
sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.
8.
Menurut cara bergaul yang ketiga ini, kita tidak
hanya sekedar “tidak mengganggu orang lain dan tidak hanya sekedar memberi
manfaaat kepada orang lain” seperti pada cara bergaul menurut tingkat pertama
dan kedua, melainkan lebih dari itu kita sudah berbuat ke tingkat yang lebih
sempurna lagi, yaitu kita menahan diri dengan sabar terhadap tindakan orang
lain yang menyakitkan kita, bahkan kita balas perbuatan yang tidak baik itu
dengan kebaikan.
9.
Untuk dapat berbuat baik kepada semua orang
dalam bidang publik, orang sebetulnya tak perlu menonjolkan apa agamanya,
tetapi sebaliknya menekankan kemanusiaannya. “Tak ada kasih yang lebih besar
daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabat-Nya”.
10.
Untuk membentuk manusia yang baik dan berguna
bergantung pada proses pendidikan yang dilakukan di dalam Keluarga, di sekolah
dan masyarakat.