Rabu, 15 Oktober 2014



Reading course 5

F.) Manfaat belajar filsafat ilmu pengetahuan
          Untuk menarik beberapa pemikiran mengenai kegunaan filsafat ilmu pengetahuan, sebaiknya kita memulainya dengan memahami terlebih dahulu apa manfaat dari mempelajari filsafat pada umumnya. Secara umum dikatakan bahwa filsafat memiliki dua kegunaan yang saling mendukung, yakni kegunaan bagi individual dan kegunaan bagi kehidupan sosial.
Dari segi manfaat atau kegunaan bagi individu, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini : 
  1. Filsafat berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana (belum complicated).
  2.   Filsafat dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya.
  3. Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya
Sementara itu, dari segi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini.
a)             Prinsip-prinsip atau pemikiran filsafat membentuk organisasi sosial berdasarkan basis atau fondasi tertentu yang sifatnya permanen.
b)             Filsafat sosial terdiri dari serangkaian prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang menuntut keyakinan dan penerimaan atas kebenaran mereka.
G.) Ruang lingkup dan kedudukan filsafat
Dibandigkan dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat manusia mempunyai kedudukan yang kurang lebih “sejajar”, terutama kalau manusia (seperti sosiologi, antropologi, psikologi) adalah gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia. Ini berarti bahwa gejala atau ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian filsafat manusia maupun ilmu-ilmu mengenai manusia.
H.) Sejarah perkembangan ilmu
Ilmu pengetahuan pada awalnya merupakan sebuah sistem yang dikembangkan untuk mengetahui keadaan lingkungan disekitanya. Selain itu, ilmu pengetahuan juga diciptakan untuk dapat membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Pada abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, ilmu telah menjadi sesuatu yang substantif yang menguasai kehidupan manusia. Namun, tak hanya itu, ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sedemikian pesat juga telah menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan dalam kehidupan. Hal ini didorong oleh kecenderungan pemecahan masalah kemanusiaan yang lebih banyak bersifsat sektoral. Salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran filsafat.
I.) Landasan penelahaan ilmu

Secara singkat uraian landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :
  1. Landasan ontologi adalah tentang objek yang ditelaah ilmu.
  2. Landasan epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut.
  3. Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.

J.) Sarana berfikir ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara cermat dan teratur. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi siapa saja yang sedang melakukan kegiatan ilmiah. Tanpa kita menguasai hal ini, maka kegiatan ilmiah yang baik tidak dapat dilakukan.
       Perbedaan utama antara manusia dan binatang adalah terletak pada "kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar" dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang diinginkannya, atau membuang benda yang dianggap menghalanginya
. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan "alat yang dapat membantu kegiatan ilmiah" dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu, diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah, maka sebelum kita mengkaji sarana-sarana berpikir ilmiah ini, seyogyanga kita sudah mengetahui langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah.
      Dengan jalan ini, maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang dapat membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Atau dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri.
      Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri. Artinya, kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu.











Reading course 4

A.      Pengertian Filsafat
Pengertian filsafat dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli filsafat dengan ahli filsafat lainnya selalu berbeda, dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Secara etimologi yang dalam bahasa arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah philosophy sedangkan dalam bahasa Yunani filosofi disebut dengan philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada), dan shopia  (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582-496 SM).
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami sesuatu secara kritis. Filsafat bukanlah suatu produk, melainkan proses, proses yang nantinya akan menentukan sesuatu itu dapat diterima atau tidak. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah suatu studi atau cara berfikir yang dilakukan secara reflektif atau mendalam untuk menyelidiki fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan dengan menggunakan alasan yang diperoleh dari pemikiran kritis yang penuh dengan kehati-hatian. Filsafat didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan menggunakan pemikiran yang mendalam untuk menggungkapkan masalah secara persis, mencari solusi dengan memberi argumen dan alasan yang tepat.
Aristoteles membagi filsafat kedalam tiga bidang studi yaitu:
1) Filsafat spekulatif atau teoretis, yakni suatu cabang filsafat yang bersifat obyektif.
2) Filsafat Praktis, yakni filsafat yang memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya, termasuk di dalamnya adalah etika dan politik. Sasaran terpenting bagi filsafat praktis ini adalah membentuk sikap dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan itu.
 3) Filsafat Produktif, yaitu pengetahuan atau filsafat yang membimbing dan menuntun manusia menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus. Adapun sasaran utama yang hendak dicapai lewat filsafat ini adalah agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu.

B.      Ilmu Pengetahuan Sebagai Pengantar Ilmu Filsafat
Jika kita tinjau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat mencolok.pada permulaan sejarah filsafat yunani “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis,tetapi dalam hubungan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita melihat adanya kecendrungan yang lain,filsafat yunani kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi  terpecah pecah ( Bertens,1987 Nochelmans, 1982).
Dengan demikian perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu ilmu baru seperti ilmu filsafat yang pada akhirnya memunculkan pula ilmu-ilmu baru ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi. Oleh karena itu tepatlah apa yang di kemukakan oleh Van Peursen bahwa ilmu pengetahuan dapat di lihat sebagai suatu sistem yang saling jalin menjalin dan taat atas asas (konsisten) dari ungkapan ungkapan yang bersifat benar ridaknya yang dapat di tentukan.

C.      Fenomenologi Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan
Terbentuknya pengetahuan manusia karena adanya subjek dan objek. Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan. Dalam sejarah filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan terjadi perdebatan tentang mana yang lebih pokok dan yang lebih dulu. Subjek manusia dengan akal budinya, ataukah objek kenyataan yang diamati dan dialami di alam semesta ini. Muncul persoalan pengetahuan, apakah pengetahuan manusia berasal dari akal budi manusia atau pengalaman manusia akan realitas objektif di alam semesta ini, bersifat psikologis-subjektif atau objektif-universal, berkaitan dengan struktur kesadaran subjektif atau kenyataan real yang melekat pada objek dan lepas dari kesadaran subjektif tiap orang. Supaya terjadi pengetahuan subjek harus terarah kepada objek, dan sebaliknya objek harus terbuka dan terarah pada subjek.
Pengetahuan adalalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Manusia sebagai subjek pengetahuan memegang peranan penting. Keterarahan manusia terhadap objek merupakan faktor yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia. Pada awalnya melalui unsur jasmaniah, manusia memperoleh pengetahuan yang bersifat kongkret. Selanjutnya dengan bantuan akal budinya, pengetahuan tersebut dapat ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu abstrak dan universal. Pengetahuan yang bersifat abstrak umum dan universal tersebut melalui bahasa dapat dikomunikasikan secara universal, dibakukan, dan diwariskan kemudian diterapkan menjadi pengetahuan baru yang lebih sempurna. Jadi ilmu pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku.
Secara metodologis, dalam gejala terbentuknya pengetahuan manusia, dapat dibedakan antara dua kutub yaitu kutub si pengenal dan kutub yang dikenal, atau antara subjek dan objek. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Supaya ada pengetahuan, keduanya harus ada. Yang satu tidak pernah ada tanpa yang lainnya. Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia. Hubungan yang demikian ini menimbulkan perdebatan sepanjang sejarah filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentang mana yang lebih pokok. Bagaimanapun juga supaya ada pengetahuan, subjek harus terarah pada objek, dan sebaliknya objek harus terbuka dan terararah kepada subjek. Saling terbuka antara subjek dan objek, bertujuan untuk saling mengenal dan mengetahui sebagaimana adanya satu sama lain.
Pengetahuan adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Pengetahuan itu hanya mungkin terwujud kalau manusia sendiri adalah bagian dari objek, dari realiras di dalam semesta ini.
Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dari pengetahuan manusia yang pada dasarnya sudah ada, dan bersifat spontan kemudian disusun dan diatur secarra sistematis dengan menggunakan metode tertentu.
Dalam ilmu pengetahuan selalu ada tradisi, prosedur yang lazim,dan ada cara kerja baku yang tak dapat disangkal. Ilmu pengetahuan benar-benar masuk akal,yang dapat diterima atau dikritik oleh semua orang yang dapat menggunakan akalnya karena pada tingkat ini semua orang tentunya ingin menuntut pembuktian dan pertanggungjawaban atas kebenaran ilmu tersebut.
Ilmu pengetahuan mempunyari 3 ciri,yaitu :
           Rasional (dapat dimengerti,harus logis,terbuka bagi kritik)
           Metodis (memakai metode)
           Sistematis ( dapat memberikan suatu uraian yang menyeluruh)

D.      Filsafat Pengetahuan dan ilmu pengetahuan
1.         Filsafat pengetahuan
Filsafat pengetahuan berkaitan dengan upaya mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan manusia pada umumnya, terutama menyangkut masalah pengetahuan dan sumber pengetahuan manusia, misalnya tentang:
           Bagaimana manusia bisa tahu?
           Apakah manusia bisa sampai pada pengetahuan yang bersifat pasti?
           Apakah pengetahuan yang pasti itu mungkin?
           Apa artinya mengetahui sesuatu?
           Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia tahu?
           Darimana asal dan sumber pengetahuan manusia itu?
           Apakah pengetahuan sama dengan keyakinan?
           Di mana letak perbedaannya?
2.Filsafat Ilmu Pengetahuan  
               Filsafat ilmu pengetahuan adalah Cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan Ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari proses yang logis dan imajinatif. Dalam cara kerja ilmu pengetahuan juga membicarakan tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat..
HUBUNGAN FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukannya di dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut.
Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1) Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2) Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.

E.      Fokus Filsafat Ilmu Pengetahuan  
        Ilmu pengetahuan merupakan karya yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari seseorang, sesuatu gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan muncul. Begitu juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain. Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh  budi manusia yang terbuka pada realitis. Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan.