Reading course 4
A. Pengertian Filsafat
Pengertian
filsafat dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli
filsafat dengan ahli filsafat lainnya selalu berbeda, dan hampir sama banyaknya
dengan ahli filsafat itu sendiri. Secara etimologi yang dalam bahasa arab
dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah
philosophy sedangkan dalam bahasa Yunani filosofi disebut dengan philosophia,
yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik
kepada), dan shopia (hikmah,
kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi).
Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Kata
filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582-496 SM).
Secara
umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami sesuatu secara kritis.
Filsafat bukanlah suatu produk, melainkan proses, proses yang nantinya akan
menentukan sesuatu itu dapat diterima atau tidak. Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa filsafat adalah suatu studi atau cara berfikir yang dilakukan secara
reflektif atau mendalam untuk menyelidiki fenomena-fenomena yang terjadi dalam
kehidupan dengan menggunakan alasan yang diperoleh dari pemikiran kritis yang
penuh dengan kehati-hatian. Filsafat didalami tidak dengan melakukan
eksperimen-eksperimen, tetapi dengan menggunakan pemikiran yang mendalam untuk
menggungkapkan masalah secara persis, mencari solusi dengan memberi argumen dan
alasan yang tepat.
Aristoteles
membagi filsafat kedalam tiga bidang studi yaitu:
1)
Filsafat spekulatif atau teoretis, yakni suatu cabang filsafat yang bersifat
obyektif.
2)
Filsafat Praktis, yakni filsafat yang memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah
laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya, termasuk di dalamnya adalah
etika dan politik. Sasaran terpenting bagi filsafat praktis ini adalah
membentuk sikap dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam
terang pengetahuan itu.
3) Filsafat Produktif, yaitu pengetahuan atau
filsafat yang membimbing dan menuntun manusia menjadi produktif lewat suatu
keterampilan khusus. Adapun sasaran utama yang hendak dicapai lewat filsafat
ini adalah agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu.
B. Ilmu Pengetahuan Sebagai Pengantar Ilmu
Filsafat
Jika
kita tinjau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami
perkembangan yang sangat mencolok.pada permulaan sejarah filsafat yunani
“philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis,tetapi dalam hubungan
ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita melihat adanya
kecendrungan yang lain,filsafat yunani kuno yang tadinya merupakan suatu
kesatuan kemudian menjadi terpecah pecah
( Bertens,1987 Nochelmans, 1982).
Dengan
demikian perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan
munculnya ilmu ilmu baru seperti ilmu filsafat yang pada akhirnya memunculkan
pula ilmu-ilmu baru ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi. Oleh
karena itu tepatlah apa yang di kemukakan oleh Van Peursen bahwa ilmu
pengetahuan dapat di lihat sebagai suatu sistem yang saling jalin menjalin dan
taat atas asas (konsisten) dari ungkapan ungkapan yang bersifat benar ridaknya
yang dapat di tentukan.
C. Fenomenologi
Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan
Terbentuknya
pengetahuan manusia karena adanya subjek dan objek. Keduanya merupakan suatu
kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan. Dalam sejarah filsafat pengetahuan
dan ilmu pengetahuan terjadi perdebatan tentang mana yang lebih pokok dan yang
lebih dulu. Subjek manusia dengan akal budinya, ataukah objek kenyataan yang
diamati dan dialami di alam semesta ini. Muncul persoalan pengetahuan, apakah
pengetahuan manusia berasal dari akal budi manusia atau pengalaman manusia akan
realitas objektif di alam semesta ini, bersifat psikologis-subjektif atau
objektif-universal, berkaitan dengan struktur kesadaran subjektif atau
kenyataan real yang melekat pada objek dan lepas dari kesadaran subjektif tiap
orang. Supaya terjadi pengetahuan subjek harus terarah kepada objek, dan
sebaliknya objek harus terbuka dan terarah pada subjek.
Pengetahuan
adalalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Manusia sebagai subjek
pengetahuan memegang peranan penting. Keterarahan manusia terhadap objek
merupakan faktor yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia.
Pada awalnya melalui unsur jasmaniah, manusia memperoleh pengetahuan yang
bersifat kongkret. Selanjutnya dengan bantuan akal budinya, pengetahuan
tersebut dapat ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu abstrak dan universal.
Pengetahuan yang bersifat abstrak umum dan universal tersebut melalui bahasa
dapat dikomunikasikan secara universal, dibakukan, dan diwariskan kemudian
diterapkan menjadi pengetahuan baru yang lebih sempurna. Jadi ilmu pengetahuan
muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, disusun dan
diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku.
Secara
metodologis, dalam gejala terbentuknya pengetahuan manusia, dapat dibedakan
antara dua kutub yaitu kutub si pengenal dan kutub yang dikenal, atau antara
subjek dan objek. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Supaya ada
pengetahuan, keduanya harus ada. Yang satu tidak pernah ada tanpa yang lainnya.
Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia.
Hubungan yang demikian ini menimbulkan perdebatan sepanjang sejarah filsafat
pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentang mana yang lebih pokok. Bagaimanapun
juga supaya ada pengetahuan, subjek harus terarah pada objek, dan sebaliknya
objek harus terbuka dan terararah kepada subjek. Saling terbuka antara subjek
dan objek, bertujuan untuk saling mengenal dan mengetahui sebagaimana adanya
satu sama lain.
Pengetahuan
adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Pengetahuan itu hanya mungkin
terwujud kalau manusia sendiri adalah bagian dari objek, dari realiras di dalam
semesta ini.
Ilmu
pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dari pengetahuan manusia yang pada
dasarnya sudah ada, dan bersifat spontan kemudian disusun dan diatur secarra
sistematis dengan menggunakan metode tertentu.
Dalam
ilmu pengetahuan selalu ada tradisi, prosedur yang lazim,dan ada cara kerja
baku yang tak dapat disangkal. Ilmu pengetahuan benar-benar masuk akal,yang
dapat diterima atau dikritik oleh semua orang yang dapat menggunakan akalnya
karena pada tingkat ini semua orang tentunya ingin menuntut pembuktian dan
pertanggungjawaban atas kebenaran ilmu tersebut.
Ilmu
pengetahuan mempunyari 3 ciri,yaitu :
• Rasional (dapat dimengerti,harus
logis,terbuka bagi kritik)
• Metodis (memakai metode)
• Sistematis ( dapat memberikan suatu
uraian yang menyeluruh)
D. Filsafat Pengetahuan dan ilmu pengetahuan
1. Filsafat pengetahuan
Filsafat
pengetahuan berkaitan dengan upaya mengkaji segala sesuatu yang berkaitan
dengan pengetahuan manusia pada umumnya, terutama menyangkut masalah
pengetahuan dan sumber pengetahuan manusia, misalnya tentang:
• Bagaimana manusia bisa tahu?
• Apakah manusia bisa sampai pada
pengetahuan yang bersifat pasti?
• Apakah pengetahuan yang pasti itu
mungkin?
• Apa artinya mengetahui sesuatu?
• Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia
tahu?
• Darimana asal dan sumber pengetahuan
manusia itu?
• Apakah pengetahuan sama dengan
keyakinan?
• Di mana letak perbedaannya?
2.Filsafat
Ilmu Pengetahuan
Filsafat ilmu pengetahuan adalah
Cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan
dengan Ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran
kita untuk mempelajari proses yang logis dan imajinatif. Dalam cara kerja ilmu
pengetahuan juga membicarakan tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan
masyarakat..
HUBUNGAN
FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN
Apakah
hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff
dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa
hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba
untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukannya di dalam ilmu
pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin
penting pula bagi seorang filsuf. Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam
usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan
harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam
usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan
kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut.
Para
filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus
dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1)
Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga
filsuf identik dengan ilmuwan.
2) Objek
material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah
alam, manusia dan ketuhanan.
E. Fokus Filsafat Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan merupakan karya yang
logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari seseorang, sesuatu
gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan muncul. Begitu juga halnya jika
kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain. Metode-metode ilmu pengetahuan
adalah metode-metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktekan logika.
Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh budi manusia yang terbuka pada realitis.
Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika
dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu
pengetahuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar