Selasa, 11 November 2014



Reading course 6
 Tiara oktiviani
D-4 Kebidanan
A.    Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan dan Keyakinan adalah dua hal cukup berlawanan. Meskipun begitu pada dasarnya ada keterikatan yang kuat antara Pengetahuan dan Keyakinan. Baik pengetahuan maupun keyakinan sama sama merupakan sikap mental seseorang dalam hubungan pada objek tertentu yang disadarinya. Dalam keyakinan objek yang disadari sebagai ada tidak perlu harus ada sebagaimana adanya sebaliknya dalam pengetahuan objek yang disadari ada harus ada sebagaimana adanya Dari hal diatas dapat disimpulkan, ada perbedaan antara pengetahuan dan keyakinan. Keyakinan bisa saja keliru namun tetap disah dianut sebagai keyakinan. Apa yang disadari bisa saja tidak ada dalam kenyataan. Sebaliknya, pengetahuan tidak bisa salah atau keliru, apabila  pengetahuan salah maka tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan. Dalam pengetahuan objek yang dikaji harus benar benar ada.

B.Sumber pengetahuan rasionalisme dan empirisme
Secara etimologis menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalims, dan menurut Edwards (1967) kata ini berakar dari bahasa Latin ratio yang berarti “akal”, Lacey (2000) menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegang bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Paham Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu pengetahuan.  Rasio itu adalah berpikir. Maka berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan tindakannya.
Empirisme secara etimologis menurut Bagus (2002) berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) dan dari kata experietia yang berarti “berpengalaman dalam”,“berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut Lacey (2000) berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera. Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.

C.Kebenaran Ilmiah
            Rasional dalam arti bahwa kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang dapat diterima oleh akal sehat, dan setiap orang dapat memahami kebenaran ilmiah yang dimaksud sistematik dalam arti bahwa kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang diperoleh melalui sebuah proses yang sistematik artinya, ada langkah-langkah atau tahapan yang ditempuh dengan sesuai prosedur ilmiah. Jujur dalam arti bahwa kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang diperoleh berdasarkan data dan fakta yang sebenarnya. Bukan data dan fakta hasil rekayasa atau kebohongan sang peneliti.
Sifat Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.     Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan  sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
2.     Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3.     Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.









Rabu, 15 Oktober 2014



Reading course 5

F.) Manfaat belajar filsafat ilmu pengetahuan
          Untuk menarik beberapa pemikiran mengenai kegunaan filsafat ilmu pengetahuan, sebaiknya kita memulainya dengan memahami terlebih dahulu apa manfaat dari mempelajari filsafat pada umumnya. Secara umum dikatakan bahwa filsafat memiliki dua kegunaan yang saling mendukung, yakni kegunaan bagi individual dan kegunaan bagi kehidupan sosial.
Dari segi manfaat atau kegunaan bagi individu, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini : 
  1. Filsafat berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana (belum complicated).
  2.   Filsafat dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya.
  3. Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya
Sementara itu, dari segi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat filsafat ini.
a)             Prinsip-prinsip atau pemikiran filsafat membentuk organisasi sosial berdasarkan basis atau fondasi tertentu yang sifatnya permanen.
b)             Filsafat sosial terdiri dari serangkaian prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang menuntut keyakinan dan penerimaan atas kebenaran mereka.
G.) Ruang lingkup dan kedudukan filsafat
Dibandigkan dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat manusia mempunyai kedudukan yang kurang lebih “sejajar”, terutama kalau manusia (seperti sosiologi, antropologi, psikologi) adalah gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia. Ini berarti bahwa gejala atau ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian filsafat manusia maupun ilmu-ilmu mengenai manusia.
H.) Sejarah perkembangan ilmu
Ilmu pengetahuan pada awalnya merupakan sebuah sistem yang dikembangkan untuk mengetahui keadaan lingkungan disekitanya. Selain itu, ilmu pengetahuan juga diciptakan untuk dapat membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Pada abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, ilmu telah menjadi sesuatu yang substantif yang menguasai kehidupan manusia. Namun, tak hanya itu, ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sedemikian pesat juga telah menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan dalam kehidupan. Hal ini didorong oleh kecenderungan pemecahan masalah kemanusiaan yang lebih banyak bersifsat sektoral. Salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran filsafat.
I.) Landasan penelahaan ilmu

Secara singkat uraian landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :
  1. Landasan ontologi adalah tentang objek yang ditelaah ilmu.
  2. Landasan epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut.
  3. Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.

J.) Sarana berfikir ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara cermat dan teratur. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi siapa saja yang sedang melakukan kegiatan ilmiah. Tanpa kita menguasai hal ini, maka kegiatan ilmiah yang baik tidak dapat dilakukan.
       Perbedaan utama antara manusia dan binatang adalah terletak pada "kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar" dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang diinginkannya, atau membuang benda yang dianggap menghalanginya
. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan "alat yang dapat membantu kegiatan ilmiah" dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu, diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah, maka sebelum kita mengkaji sarana-sarana berpikir ilmiah ini, seyogyanga kita sudah mengetahui langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah.
      Dengan jalan ini, maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang dapat membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Atau dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri.
      Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri. Artinya, kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu.











Reading course 4

A.      Pengertian Filsafat
Pengertian filsafat dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli filsafat dengan ahli filsafat lainnya selalu berbeda, dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Secara etimologi yang dalam bahasa arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah philosophy sedangkan dalam bahasa Yunani filosofi disebut dengan philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada), dan shopia  (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582-496 SM).
Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami sesuatu secara kritis. Filsafat bukanlah suatu produk, melainkan proses, proses yang nantinya akan menentukan sesuatu itu dapat diterima atau tidak. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah suatu studi atau cara berfikir yang dilakukan secara reflektif atau mendalam untuk menyelidiki fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan dengan menggunakan alasan yang diperoleh dari pemikiran kritis yang penuh dengan kehati-hatian. Filsafat didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan menggunakan pemikiran yang mendalam untuk menggungkapkan masalah secara persis, mencari solusi dengan memberi argumen dan alasan yang tepat.
Aristoteles membagi filsafat kedalam tiga bidang studi yaitu:
1) Filsafat spekulatif atau teoretis, yakni suatu cabang filsafat yang bersifat obyektif.
2) Filsafat Praktis, yakni filsafat yang memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya, termasuk di dalamnya adalah etika dan politik. Sasaran terpenting bagi filsafat praktis ini adalah membentuk sikap dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan itu.
 3) Filsafat Produktif, yaitu pengetahuan atau filsafat yang membimbing dan menuntun manusia menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus. Adapun sasaran utama yang hendak dicapai lewat filsafat ini adalah agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu.

B.      Ilmu Pengetahuan Sebagai Pengantar Ilmu Filsafat
Jika kita tinjau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat mencolok.pada permulaan sejarah filsafat yunani “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis,tetapi dalam hubungan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita melihat adanya kecendrungan yang lain,filsafat yunani kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi  terpecah pecah ( Bertens,1987 Nochelmans, 1982).
Dengan demikian perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu ilmu baru seperti ilmu filsafat yang pada akhirnya memunculkan pula ilmu-ilmu baru ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi. Oleh karena itu tepatlah apa yang di kemukakan oleh Van Peursen bahwa ilmu pengetahuan dapat di lihat sebagai suatu sistem yang saling jalin menjalin dan taat atas asas (konsisten) dari ungkapan ungkapan yang bersifat benar ridaknya yang dapat di tentukan.

C.      Fenomenologi Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan
Terbentuknya pengetahuan manusia karena adanya subjek dan objek. Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan. Dalam sejarah filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan terjadi perdebatan tentang mana yang lebih pokok dan yang lebih dulu. Subjek manusia dengan akal budinya, ataukah objek kenyataan yang diamati dan dialami di alam semesta ini. Muncul persoalan pengetahuan, apakah pengetahuan manusia berasal dari akal budi manusia atau pengalaman manusia akan realitas objektif di alam semesta ini, bersifat psikologis-subjektif atau objektif-universal, berkaitan dengan struktur kesadaran subjektif atau kenyataan real yang melekat pada objek dan lepas dari kesadaran subjektif tiap orang. Supaya terjadi pengetahuan subjek harus terarah kepada objek, dan sebaliknya objek harus terbuka dan terarah pada subjek.
Pengetahuan adalalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Manusia sebagai subjek pengetahuan memegang peranan penting. Keterarahan manusia terhadap objek merupakan faktor yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia. Pada awalnya melalui unsur jasmaniah, manusia memperoleh pengetahuan yang bersifat kongkret. Selanjutnya dengan bantuan akal budinya, pengetahuan tersebut dapat ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu abstrak dan universal. Pengetahuan yang bersifat abstrak umum dan universal tersebut melalui bahasa dapat dikomunikasikan secara universal, dibakukan, dan diwariskan kemudian diterapkan menjadi pengetahuan baru yang lebih sempurna. Jadi ilmu pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku.
Secara metodologis, dalam gejala terbentuknya pengetahuan manusia, dapat dibedakan antara dua kutub yaitu kutub si pengenal dan kutub yang dikenal, atau antara subjek dan objek. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Supaya ada pengetahuan, keduanya harus ada. Yang satu tidak pernah ada tanpa yang lainnya. Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia. Hubungan yang demikian ini menimbulkan perdebatan sepanjang sejarah filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentang mana yang lebih pokok. Bagaimanapun juga supaya ada pengetahuan, subjek harus terarah pada objek, dan sebaliknya objek harus terbuka dan terararah kepada subjek. Saling terbuka antara subjek dan objek, bertujuan untuk saling mengenal dan mengetahui sebagaimana adanya satu sama lain.
Pengetahuan adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Pengetahuan itu hanya mungkin terwujud kalau manusia sendiri adalah bagian dari objek, dari realiras di dalam semesta ini.
Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dari pengetahuan manusia yang pada dasarnya sudah ada, dan bersifat spontan kemudian disusun dan diatur secarra sistematis dengan menggunakan metode tertentu.
Dalam ilmu pengetahuan selalu ada tradisi, prosedur yang lazim,dan ada cara kerja baku yang tak dapat disangkal. Ilmu pengetahuan benar-benar masuk akal,yang dapat diterima atau dikritik oleh semua orang yang dapat menggunakan akalnya karena pada tingkat ini semua orang tentunya ingin menuntut pembuktian dan pertanggungjawaban atas kebenaran ilmu tersebut.
Ilmu pengetahuan mempunyari 3 ciri,yaitu :
           Rasional (dapat dimengerti,harus logis,terbuka bagi kritik)
           Metodis (memakai metode)
           Sistematis ( dapat memberikan suatu uraian yang menyeluruh)

D.      Filsafat Pengetahuan dan ilmu pengetahuan
1.         Filsafat pengetahuan
Filsafat pengetahuan berkaitan dengan upaya mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan manusia pada umumnya, terutama menyangkut masalah pengetahuan dan sumber pengetahuan manusia, misalnya tentang:
           Bagaimana manusia bisa tahu?
           Apakah manusia bisa sampai pada pengetahuan yang bersifat pasti?
           Apakah pengetahuan yang pasti itu mungkin?
           Apa artinya mengetahui sesuatu?
           Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia tahu?
           Darimana asal dan sumber pengetahuan manusia itu?
           Apakah pengetahuan sama dengan keyakinan?
           Di mana letak perbedaannya?
2.Filsafat Ilmu Pengetahuan  
               Filsafat ilmu pengetahuan adalah Cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan Ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari proses yang logis dan imajinatif. Dalam cara kerja ilmu pengetahuan juga membicarakan tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat..
HUBUNGAN FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukannya di dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut.
Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1) Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2) Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.

E.      Fokus Filsafat Ilmu Pengetahuan  
        Ilmu pengetahuan merupakan karya yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari seseorang, sesuatu gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan muncul. Begitu juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain. Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh  budi manusia yang terbuka pada realitis. Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan.

Senin, 29 September 2014



Reading course 3
Konsep dasar etika umum

H.) Hati nurani
Hati nurani adalah bagian yang tak terpisahkan dari manusia, karena allah menjadikannya bagian dari diri seseorang. Jadi, hsti nurani menghakimi hatu nurani juga dapat dilatih oleh pikiran dan perbuata, keyakinan dan aturan yang ditanamkan dalam pikiran seseorang melalui pelaaran dan pengalamn.

I.) Shame culture and Guilt culture
·        Shame culture adalah kebudayaan dimana pengertian-pengetian seperti “Hormat”, “Reputasi”, “ Nama baik”, “Status”, dan “Gengsi” sangat ditekankan.
·        Guilt culture adalah kebudayaan dimana pengertian-pengertian seperti “Dosa” (sin), “Kebersalahan” (guilt), dan sebagainya sangat di pentingkan.
Ciri-ciri shame culture :
1.     ditandai rasa malu
2.     menekankan pengetian hormat, reputasi, nama baik, status, dan gengsi
3.     bila melakukan kejahatan harus disembunyikan dari orang lain
4.     hati nurani hampir tidak berperan
Ciri-ciri guilt culture :
1.     ditandai rasa malu
2.     kendati suatu kejahatan tidak diketahui oleh orang lain, pelaku tetap merasa bersalah
3.     hati nurani sangat berperan penting
4.     ditandai oleh martabat manusia

J.) Kebebasan dan Tanggung jawab
Menurut kamus John kersey mengartikan bahwa “Kebebasan” adalah sebagai kemerdekaan atau bebas meninggalkan. Artinya semua orang bebas untuk tidak melakukan atau melakukan suatu hal.
Tanggung jawab berkaitan dengan “Penyebab” yang bertanggung jawab hanya yang melakukan tindakan tidak ada tanggung jawab tanpa kebebasan atau sebaliknya.

K.) Nilai dan Norma
Hubungan antara nilai dengan norma terletak pada dijadikannya nilai sebagi sumber dari aturan-aturan yang menuntun tingkah laku manusia agar harapan-harapannya dapat menjadi kanyataan.

L.) Hak dan Kewajiban
·        hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunaannya tergantung kepada kitaa sendiri.
·        Kewajiban adalah sesuatu yang dilakukan dengan tanggung jawab.
Sebaimana yang telah diatur oleh UUD 1945 maka kita harus melaksanakan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara dengan tertib yang meliputi :
1.     hak dan kewajiban dalam bidang politik
2.     hak dan kewajiban dalam bidang sosial budaya
3.     hak dan kewajiban dalam bidang hankam
4.     hak dan kewajiban dalam bidang ekonomi

M.) Menjadi manusia yang baik
Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah, kita didunia ini tidak dapat hidup sendirian, tidak dapat hidup sebatang kara. Kita semua ini bukanlah malaikat, yang dapat hidup dengan tidak makan, minum, dan lain sebagainya. Kita adalah manusia, kita adalah anak Adam yang tidak boleh tidak pasti mempunyai banyak keperluan hidup, baik bersifat rohani maupun yang bersifat jasmani, baik yang primer maupun yang sekunder.
Kita semua tahu hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepda kebutuhan hidup kita yang sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin dapat kita cukupi hanya dengan usaha tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita makan misalnya, setiap suap nasi yang kita makan, kita memerlukan bantuan puluhan atau bahkan ratusan dan ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan setiap suap nasi kita itu, sejak mulai biji padi dijatuhkan di tanah, sampai akhirnya berwujud nasi yang siap untuk dimakan. Misalnya lagi, kita mencari ilmu. Setiap bagian ilmu yang kita pelajari, pastilah sebelum itu sudah banyak sekali orang lain yang telah bekerja bersusah payah sehingga ilmu itu dapat dan mudah kita pelajari. Kita tinggal membaca buku atau mendengarkannya, dan kita tidak melakukan penyelidikan mulai dari nol ketika ilmu itu belum ditemukan. Dan lain sebagainya. Jadi saudara-saudara kita semua pasti memerlukan bantuan orang lain. Dan hajat kita akan bantuan orang lain, bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, kita semua ini harus hidup bermasyarakat. Itulah sebabnya sudara-saudara, para sosiolig berkata bahwa; “manusia adalah makhluk social”
1.     Manusia diciptakan dengan penuh kesempurnaan akal dan pikiran oleh Allah Swt, kemudian harus berinteraksi dengan sekitarnya dengan cara yang dibenarkan sehingga kehidupan bersama yang damai dan penuh rasa aman dapat tercapai.
2.     Akhlak secara terminologi tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan perbuatan baik. Dan akhlak bersumber pada agama. Moral Adat istiadat yang menjadi dasar untuk mengukur apakah perbuatan seseorang baik atau buruk
3.     Budi pekerti Budi berarti sadar atau yang menyadarkar Pekerti berarti kelakuan Perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia
4.     Ruang Lingkup Akhlak Akhlak berkeluarga Akhlak Pribadi Akhlak Bermasyarakat Akhlak Bernegara Akhlak Beragama
5.     Keutamaan dan Watak Moral Keutamaan adalah: Disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkannya untuk bertingkah laku baik secara moral Disposisi berarti suatu kecenderungan yang tetap Keutamaan berkaitan dengan kehendak / motif Keutamaan diperoleh dari membiasakan diri (hasil latihan)Misalnya: Kemurahan Hati
6.     Royalah Dalam Memberikan Pujian.  Buatlah Orang Lain Merasa Dirinya Sebagai Orang Penting. Jadilah Pendengar Yang Baik.  Usahakan Untuk Menyebut Nama Orang Dengan Benar.  Bersikaplah Ramah. Bermurah Hatilah.  Hindari Kebiasaan Mengkritik Dan Mencela. Bersikaplah Asertif.  Perbuatlah Apa Yang Anda Ingin Orang Lain Perbuat Kepada Anda. 
7.     Ialah tingkat yang paling rendah yaitu kita bergaul dengan orang lain hanya sekedar kita tidak membuat susah kepada orang lain dan tidak mengganggu mereka. Bergaul yang baik dengan orang lain menurut tingkat kedua ini kita bergaul tidak secara pasif lagi tetapi secara aktif, dengan kita berbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak sekedar hanya “tidak menggangu orang lain”, tetapi lebih dari itu kita sudah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.
8.     Menurut cara bergaul yang ketiga ini, kita tidak hanya sekedar “tidak mengganggu orang lain dan tidak hanya sekedar memberi manfaaat kepada orang lain” seperti pada cara bergaul menurut tingkat pertama dan kedua, melainkan lebih dari itu kita sudah berbuat ke tingkat yang lebih sempurna lagi, yaitu kita menahan diri dengan sabar terhadap tindakan orang lain yang menyakitkan kita, bahkan kita balas perbuatan yang tidak baik itu dengan kebaikan.
9.     Untuk dapat berbuat baik kepada semua orang dalam bidang publik, orang sebetulnya tak perlu menonjolkan apa agamanya, tetapi sebaliknya menekankan kemanusiaannya. “Tak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabat-Nya”.
10.                   Untuk membentuk manusia yang baik dan berguna bergantung pada proses pendidikan yang dilakukan di dalam Keluarga, di sekolah dan masyarakat.

Senin, 22 September 2014




Konsep dasar Etika umum
A.) Etika dan Moral
·         Etika merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk.
·         Moral suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat di katakan benar, salah, baik atau buruk.
Etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan yang lainnya kita dapat mengatakan bahwa antara etika dan moral memiliki objek yang sama-sama membahas tentang manusia.

B.) Amoral dan Imoral
Imoral dan Amoral sering tercampur aduk, bahkan di media      masa pun sering salah menggunakannya
·         Amoral : tidak terkait dengan moral, non-moral
·         Imoral   : bertentangan dengan moral yang baik

C.) Etika dan Etiket
Etika dan Etiket adalah hal yang menyangkut perilaku manusia, namun kedua-duanya memiliki perbedaan
·         Etika berasal dari bahasa yunani, yaitu Ethos yang bermakna watak kebiasaan
·         Etiket berasal dari bahasa perancis, yaitu Etiquette yang berarti sopan santun.
D.) Etika sebagai cabang Filsafat
Pada dasarnya, Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan      refleksi serta metode pada tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral sebagian ilmu, etika mencari kebenaran dan sebagai filsafat, ia mencari keterangan (benar) yang sedalam-dalamnya. Sebagai ilmu dan filsafat, etika menghendaki ukuran yang umum, tidak berlaku untuk sebagian dari manusia, tetapi untuk semua manusia.

E.) Peranan etika dalam dunia modern
Di dunia modern saat ini, kita tidak bisa menghindari kemajuan teknologi yang ada maka dari itu, kita tidak boleh melupakan etika yang da dalam negara kita. Karena kemajuan teknologi yang ada sangatlah banyak, maka kita kita harus berpegang pada etika dan nilai moral negara kita untuk menyaring kemajuan teknologi yang masuk ke negara kita. Dan bagi warga negara kita yang berada di luar negeri mereka juga harus berpegang pada etika dan nilai moral yang ada pada negara kita agar tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif yang ada.

F.) Moral dan Agama
Hubungan agama dan moral berbicara tentang moral asosiasinya akan tertuju pada penentuan baik dan buruk sesuatu, dengan rasio atau tradisi dapat juga dengan lainnya seseorang dapat menentukan baik dan buruk.

G.) Moral dan Hukum
·         Kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia dengan manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.
·         Hukum adalah norma-norma yang di tuntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan untuk di langgar.
Terdapat hubungan erat antara moral dan hukum keduanya saling mengandalkan dan sama-sama mengatur perilaku manusia. Hukum membutuhkan moral, hukum tidak berarti banyak kalau tidak dijiwai oleh moralitas. Tanpa moralitas, hukum adalah kosong karena itu, hukum harus selalu di ukur dengan norma moral.

Senin, 15 September 2014



Nama         : Tiara Oktiviani
Jurusan      : DIV Kebidanan


Humaniora sebagai ilmu, teknologi, dan nilai

Humaniora dan pengembangan ilmu dan teknologi
Penguasaan dan pengembangan ilmu dan teknologi adalah amanat kemanusiaan, oleh karena itu harus memberi manfaat bagi kesejahteraan manusia. Humaniora membawa nilai-nilai  tersebut nilai-nilai yang universal tanpa humaniora pengembangan ilmu dan teknologi tidak lagi bermanfaat bagi manusia. Perkembangan tersebut meimbulkan hedonisme yang bermula di masyarakat.

Ilmu Humaniora
          Menurut kamus besar bahasa indonesia edisi keempat, Humaniora berarti “Ilmu Pengetahuan” yang menafsirkan makna kehidupan manusia di dunia dan berusaha menafsirkan martabat kepada penghidupan dan eksitensi manusia. Sedangkan menurut  kamus besar bahasa inggris disebut Humanities adalah cabang kajian yang menyelidiki konsep-konsep dan persoalan-persoalan manusia yang berbeda dengan proses-proses alami. Jadi dari pengertian diatas, kita dapat menyimpulkan:
1.     Humaniora adalah ilmu yang mengkaji hakikat manusia beserta persoalan-persoalan manusiawi mereka dengan tujuan untuk meraih kualitas kehidupan yang lebih baik.
2.     Humaniora terdiri dari cabang-cabang ilmu lain di antaranya bahasa, sastra, filsafat, sejarah, dan seni.

Nilai Humaniora
          Humaniora sebagai nilai yang berarti bahwa ilmu humaniora ini sangat mengutamakan nilai atau norma-norma dalam masyarakat di kehidupan sehari-hari. Saat berinteraksi atau berkomunikasi antar sesama manusia sebaiknya kita wajib mangapa batas-batas norma. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama, dan fenomelogi.
          Humaniora sebagai pengemban nilai-nilai telah dijelaskan bahwa adanya akal dan budidaya pada manusia telah menyebabkan adanya perbedaan cara dan pola hidup di antara keduanya. Oleh karena itu akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara pola dan hidup yang berdimensi ganda, yakni kehidupan yang bersifat material dan kehidupan yang bersifat spiritual.