Reading course 6
Tiara oktiviani
D-4 Kebidanan
A.
Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan dan Keyakinan adalah dua hal cukup berlawanan.
Meskipun begitu pada dasarnya ada keterikatan yang kuat antara Pengetahuan dan
Keyakinan. Baik pengetahuan maupun keyakinan sama sama merupakan sikap mental
seseorang dalam hubungan pada objek tertentu yang disadarinya. Dalam keyakinan
objek yang disadari sebagai ada tidak perlu harus ada sebagaimana adanya
sebaliknya dalam pengetahuan objek yang disadari ada harus ada sebagaimana
adanya Dari hal diatas dapat disimpulkan, ada perbedaan antara pengetahuan dan
keyakinan. Keyakinan bisa saja keliru namun tetap disah dianut sebagai
keyakinan. Apa yang disadari bisa saja tidak ada dalam kenyataan. Sebaliknya,
pengetahuan tidak bisa salah atau keliru, apabila pengetahuan salah maka
tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan. Dalam pengetahuan objek yang dikaji
harus benar benar ada.
B.Sumber pengetahuan rasionalisme dan empirisme
Secara
etimologis menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalims,
dan menurut Edwards (1967) kata ini berakar dari bahasa Latin ratio yang
berarti “akal”, Lacey (2000) menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya
rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegang bahwa akal merupakan sumber
bagi pengetahuan dan pembenaran. Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah
pernyataan aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan
dari ide yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran
manusia. Paham
Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio.
Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia
harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat
memperolah ilmu pengetahuan. Rasio itu adalah berpikir. Maka berpikir
inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang
akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia
berbuat dan menentukan tindakannya.
Empirisme
secara etimologis menurut Bagus (2002) berasal dari kata bahasa Inggris empiricism
dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία
(empeiria) dan dari kata experietia yang berarti
“berpengalaman dalam”,“berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut
Lacey (2000) berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat
yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan
kepada pengalaman yang menggunakan indera. Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa
definisi mengenai empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh
pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan
abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman
inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.
C.Kebenaran Ilmiah
Rasional dalam arti bahwa kebenaran
ilmiah merupakan kebenaran yang dapat diterima oleh akal sehat, dan setiap
orang dapat memahami kebenaran ilmiah yang dimaksud sistematik dalam arti bahwa
kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang diperoleh melalui sebuah proses yang
sistematik artinya, ada langkah-langkah atau tahapan yang ditempuh dengan
sesuai prosedur ilmiah. Jujur dalam arti bahwa kebenaran ilmiah merupakan
kebenaran yang diperoleh berdasarkan data dan fakta yang sebenarnya. Bukan data
dan fakta hasil rekayasa atau kebohongan sang peneliti.
Sifat Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah
paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.
Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan
kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena
kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang
dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah.
Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal.
Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan sifat rasional (rationality)
dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk
kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu
di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau
semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin
tidak rasional.
2.
Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada,
bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan
kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran
ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa
dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap
benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara
empiris.
3.
Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan
kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu
“pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan
tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat
untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah
adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada
saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek
dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi)
yang disesuaikan dengan metodologisnya.