Selasa, 11 November 2014



Reading course 6
 Tiara oktiviani
D-4 Kebidanan
A.    Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan dan Keyakinan adalah dua hal cukup berlawanan. Meskipun begitu pada dasarnya ada keterikatan yang kuat antara Pengetahuan dan Keyakinan. Baik pengetahuan maupun keyakinan sama sama merupakan sikap mental seseorang dalam hubungan pada objek tertentu yang disadarinya. Dalam keyakinan objek yang disadari sebagai ada tidak perlu harus ada sebagaimana adanya sebaliknya dalam pengetahuan objek yang disadari ada harus ada sebagaimana adanya Dari hal diatas dapat disimpulkan, ada perbedaan antara pengetahuan dan keyakinan. Keyakinan bisa saja keliru namun tetap disah dianut sebagai keyakinan. Apa yang disadari bisa saja tidak ada dalam kenyataan. Sebaliknya, pengetahuan tidak bisa salah atau keliru, apabila  pengetahuan salah maka tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan. Dalam pengetahuan objek yang dikaji harus benar benar ada.

B.Sumber pengetahuan rasionalisme dan empirisme
Secara etimologis menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalims, dan menurut Edwards (1967) kata ini berakar dari bahasa Latin ratio yang berarti “akal”, Lacey (2000) menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegang bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Paham Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu pengetahuan.  Rasio itu adalah berpikir. Maka berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan tindakannya.
Empirisme secara etimologis menurut Bagus (2002) berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) dan dari kata experietia yang berarti “berpengalaman dalam”,“berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut Lacey (2000) berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera. Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.

C.Kebenaran Ilmiah
            Rasional dalam arti bahwa kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang dapat diterima oleh akal sehat, dan setiap orang dapat memahami kebenaran ilmiah yang dimaksud sistematik dalam arti bahwa kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang diperoleh melalui sebuah proses yang sistematik artinya, ada langkah-langkah atau tahapan yang ditempuh dengan sesuai prosedur ilmiah. Jujur dalam arti bahwa kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang diperoleh berdasarkan data dan fakta yang sebenarnya. Bukan data dan fakta hasil rekayasa atau kebohongan sang peneliti.
Sifat Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.     Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan  sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
2.     Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3.     Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar